Persekap Kabupaten Pekalongan, Bagaimana Nasibmu Kini

Persekap Kabupaten Pekalongan, Bagaimana Nasibmu Kini

JURNALPEKALONGAN.ONLINE, KAJEN – Bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan sebuah identitas dan kebanggaan. Di balik riuh rendah dukungan para suporter di stadion, ada satu nama yang menjadi simbol perlawanan dan semangat pantang menyerah Kota Santri: Persekap Kabupaten Pekalongan.

Bagaimana sebenarnya pasang surut perjalanan tim yang dijuluki Laskar Ki Ageng Cempaluk ini? Berikut adalah rekam jejak sejarah berdirinya Persekap Kabupaten Pekalongan yang berhasil dirangkum oleh redaksi Jurnal Pekalongan.

1. Akar Sejarah: Berdiri di Tahun 1949

Persekap (Perserikatan Sepak Bola Kabupaten Pekalongan) resmi didirikan pada tanggal 4 September 1949. Kelahirannya tidak lepas dari dinamika geopolitik pasca-kemerdekaan Indonesia, di mana wilayah Pekalongan Raya mulai menata diri, termasuk dalam bidang olahraga.

Sejak awal berdiri, Persekap diproyeksikan sebagai wadah perjuangan pemuda Kabupaten Pekalongan di lapangan hijau. Nama Ki Ageng Cempaluk—seorang tokoh legendaris, ulama, sekaligus penasihat spiritual Kesultanan Mataram yang makamnya berada di Kesesi, Kabupaten Pekalongan—kemudian disematkan sebagai julukan tim untuk merepresentasikan keteguhan, keberanian, dan nilai-nilai religius masyarakat setempat.

Selain itu, Persekap juga memiliki julukan Kutilang Emas, yang diambil dari fauna identitas khas Kabupaten Pekalongan, simbol kelincahan dan keindahan permainan di lapangan.

2. Era Divisi Utama dan Puncak Kejayaan (2011–2014)

Selama puluhan tahun, Persekap berjuang di kompetisi kasta bawah dan regional Jawa Tengah. Namun, titik balik bersejarah akhirnya tercipta pada musim 2011/2012.

Melalui perjuangan militan di kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia, Persekap berhasil mencetak sejarah dengan promosi ke Divisi Utama (kasta kedua Liga Indonesia kala itu). Keberhasilan ini disambut euforia luar biasa oleh masyarakat Kabupaten Pekalongan.

Di era Divisi Utama ini, Stadion Widya Manggala Krida di Kedungwuni selalu bergemuruh. Persekap bertransformasi menjadi tim yang sangat disegani, terutama saat melakoni laga kandang. Beberapa momen penting di era ini antara lain:

  • Melahirkan talenta-talenta lokal berbakat yang mampu bersaing di level nasional.
  • Terciptanya Derby Pekalongan yang panas dan sarat gengsi melawan sang tetangga, Persip Kota Pekalongan.

3. Badai Sanksi FIFA, Pandemi, dan Masa-Masa Sulit

Sama seperti banyak klub di Indonesia, perjalanan Persekap tidak selalu mulus. Saat konflik dualisme PSSI mencuat yang berujung pada sanksi FIFA untuk Indonesia pada tahun 2015, momentum emas Persekap sempat terhenti.

Ketika kompetisi digulirkan kembali dengan format baru (Liga 3), Persekap harus memulai kembali perjuangannya dari bawah. Tantangan semakin berat ketika pandemi COVID-19 melanda pada tahun 2020, yang membuat aktivitas sepak bola sempat mati suri dan memukul finansial klub.

4. Home Base: Stadion Nggemek Bebek’an

Secara historis, Persekap sangat identik dengan Stadion Widya Manggala Krida yang terletak di Kecamatan Kedungwuni. Stadion ini memendam ribuan memori asmara antara klub dan suporter setianya.

Post Comment

You May Have Missed