Mengenal Kecamatan Tirto: Geliat Sentra Konveksi Pantura di Tengah Perjuangan Melawan Rob

Mengenal Kecamatan Tirto: Geliat Sentra Konveksi Pantura di Tengah Perjuangan Melawan Rob

JURNALPEKALONGAN.ONLINE, TIRTO – Terletak di garis perbatasan langsung dengan Kota Pekalongan, Kecamatan Tirto merupakan salah satu wilayah yang paling dinamis sekaligus strategis di Kabupaten Pekalongan. Kecamatan ini menjadi pintu gerbang utama di Jalur Pantura yang menghubungkan arus ekonomi dari arah barat (Jakarta/Pemalang) menuju jantung Kota Batik.

Namun, di balik posisinya yang strategis sebagai pusat industri rumahan, Tirto juga menjadi wilayah yang sarat dengan perjuangan lingkungan, menjadikannya salah satu daerah yang paling tangguh di Kabupaten Pekalongan.

Sentra Industri Konveksi dan Batik yang Menggerakkan Ekonomi

Secara ekonomi, Kecamatan Tirto adalah mesin penggerak yang luar biasa bagi pendapatan masyarakat. Sebagian besar warga di desa-desa seperti Pacar, Tanjung, Karanganyar, hingga Samborejo menggantungkan hidupnya pada industri kreatif, khususnya konveksi pakaian jadi dan tenun ikat/batik.

Produk pakaian jadi dari Tirto tidak hanya menyuplai pasar-pasar besar di Pekalongan seperti Pasar Grosir Setono, tetapi juga dikirim ke berbagai kota besar di Indonesia seperti Pasar Tanah Abang Jakarta hingga luar pulau. Karakter masyarakatnya yang ulet dan berjiwa wirausaha membuat roda perekonomian di kecamatan ini nyaris tidak pernah tidur.

Ketangguhan Menghadapi Tantangan Alam (Rob dan Banjir)

Bukan rahasia lagi bahwa letak geografis Kecamatan Tirto yang berada di dataran rendah pesisir membuatnya menjadi langganan banjir, baik akibat luapan Sungai Bremi dan Sungai Meduri, maupun fenomena banjir rob (pasang air laut). Beberapa desa seperti Mulyorejo, Tegaldowo, Jeruksari, dan Karangjompo kerap menguji kesabaran warga setempat.

Namun, dari sinilah lahir mentalitas tangguh warga Tirto. Menghadapi tantangan lingkungan tersebut, masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Pekalongan terus bersinergi melakukan berbagai langkah adaptasi:

  • Pembangunan Tanggul dan Tanggul Sungai: Upaya masif pembendungan air laut agar tidak masuk ke pemukiman.
  • Optimalisasi Rumah Pompa: Penyedotan debit air banjir secara berkala saat musim hujan tiba.
  • Adaptasi Arsitektur: Warga secara swadaya meninggikan bangunan rumah dan jalan-jalan desa agar tetap bisa beraktivitas di tengah genangan.

Potensi Kuliner dan Sisi Religiusitas yang Kuat

Sama seperti wilayah Kabupaten Pekalongan lainnya, nafas religiusitas di Kecamatan Tirto sangat kental. Pondok pesantren, majelis taklim, dan kegiatan keagamaan tumbuh subur di sini, menjaga moralitas masyarakat di tengah derasnya arus modernisasi Pantura.

Selain itu, jika Anda melintasi Jalan Raya Tirto, Anda akan dimanjakan dengan berbagai wisata kuliner khas pesisir yang menggugah selera. Mulai dari warung Sego Megono hangat, warung pemancingan ikan segar, hingga jajaran ruko kuliner modern yang ramai dikunjungi anak muda setiap akhir pekan.

Kecamatan Tirto adalah potret nyata dari sebuah wilayah pesisir yang terus berbenah. Di balik tantangan alam yang dihadapi, geliat industri dan semangat pantang menyerah warganya membuktikan bahwa Tirto akan tetap berdiri kokoh sebagai pilar penting kemajuan Kabupaten Pekalongan.

(Reporter Jurnal Pekalongan)

Post Comment

You May Have Missed