Pekalongan ‘Tenggelam’ Perlahan? Menguak Fakta di Balik Banjir dan Rob yang Tak Kunjung Usai
JURNALPEKALONGAN.ONLINE – Banjir seolah telah menjadi “tamu tak diundang” yang rutin menyapa warga Pekalongan setiap tahunnya. Mulai dari genangan rob di wilayah pesisir hingga luapan sungai yang merendam pemukiman, masalah ini tak kunjung menemui titik terang yang permanen.
Namun, benarkah ini hanya karena curah hujan yang tinggi? Berdasarkan riset mendalam dan data dari para ahli, ternyata ada fenomena “Silent Killer” yang sedang terjadi di Kota dan Kabupaten Pekalongan. Berikut adalah alasan utama mengapa Pekalongan terus-menerus dilanda banjir:
1. Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence): Sang ‘Silent Killer’
Inilah penyebab paling krusial. Berdasarkan data dari peneliti Geodesi ITB dan BRIN, Pekalongan merupakan salah satu wilayah dengan laju penurunan muka tanah tercepat di dunia.
- Faktanya: Di beberapa titik, tanah di Pekalongan turun sekitar 10 hingga 15 cm per tahun.
- Dampaknya: Akibat tanah yang terus merosot, wilayah yang dulunya berada di atas permukaan laut kini berada di bawahnya. Hal ini membuat air laut (rob) mudah masuk dan air hujan sulit mengalir ke laut.
2. Kenaikan Permukaan Air Laut (Climate Change)
Sembari daratannya turun, permukaan air laut justru terus naik akibat pemanasan global. Fenomena Sea Level Rise ini membuat tanggul-tanggul yang ada seringkali tidak lagi mampu menahan laju air laut saat pasang tinggi, sehingga banjir rob menjadi pemandangan harian di wilayah seperti Utara Kota Pekalongan dan Wonokerto.
3. Sedimentasi dan Pendangkalan Sungai
Sungai-sungai besar di Pekalongan, seperti Sungai Loji dan Sungai Bremi, mengalami sedimentasi atau pendangkalan yang parah.
- Sampah rumah tangga dan limbah industri (terutama sisa produksi batik yang tidak terolah) menumpuk di dasar sungai.
- Akibatnya, kapasitas tampung sungai mengecil. Saat hujan deras, air tidak tertampung dan langsung meluap ke pemukiman warga.
4. Hilangnya Area Resapan dan Mangrove
Alih fungsi lahan menjadi pemukiman dan kawasan industri di wilayah pesisir menyebabkan area resapan air hilang. Selain itu, rusaknya hutan mangrove yang seharusnya menjadi benteng alami penahan abrasi dan rob memperparah kondisi pesisir kita.
5. Sistem Drainase yang Sudah ‘Lelah’
Banyak sistem drainase di Pekalongan yang dibangun puluhan tahun lalu dan tidak lagi memadai untuk menampung volume air saat ini. Terlebih, karena adanya penurunan muka tanah, banyak saluran drainase yang posisinya justru lebih rendah dari saluran pembuangan akhir, sehingga air hanya berputar-putar di tempat (backwater).
Apa Solusinya?
Pemerintah saat ini memang sedang gencar membangun tanggul raksasa dan sistem pompa. Namun, para ahli mengingatkan bahwa solusi infrastruktur “keras” seperti tanggul hanya bersifat sementara jika penggunaan air tanah secara berlebihan (salah satu pemicu penurunan tanah) tidak segera dihentikan.
Warga Pekalongan juga memiliki peran besar: berhenti membuang sampah ke sungai dan mulai menanam pohon di lingkungan sekitar bisa menjadi langkah kecil yang berarti.
Pekalongan adalah rumah kita. Memahami masalahnya adalah langkah awal untuk menyelamatkannya.
Editor: Redaksi Jurnal Pekalongan Sumber: Riset Geodesi ITB, Data BPBD, & Laporan Lingkungan Hidup



Post Comment