Jejak Dakwah KH. Thohir bin Abdul Latief: Mengenal Sosok Ulama Besar di Jenggot Pekalongan

Jejak Dakwah KH. Thohir bin Abdul Latief: Mengenal Sosok Ulama Besar di Jenggot Pekalongan

JURNALPEKALONGAN.ONLINE โ€“ Kota Pekalongan memang tidak pernah kehabisan titik-titik spiritual yang menyejukkan hati. Salah satu tempat yang menjadi rujukan utama para pencari keberkahan adalah Makam Nyamplung, yang terletak di Kelurahan Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan.

Bagi warga lokal, kawasan ini bukan sekadar pemakaman umum, melainkan tempat bersemayamnya tokoh ulama kharismatik yang jejak dakwahnya masih terasa hingga hari ini.

1. Mengenal Sosok KH. Thohir bin Abdul Latief

Tokoh utama di balik sakralnya tempat ini adalah KH. Thohir bin Abdul Latief, atau yang lebih akrab disapa oleh masyarakat sebagai Kyai Thohir. Beliau dikenal sebagai seorang ulama penyebar agama Islam yang memiliki andil besar dalam membentuk karakter religius masyarakat Jenggot dan sekitarnya.

Nama “Nyamplung” sendiri merujuk pada pohon nyamplung yang konon banyak tumbuh di sekitar lokasi pemakaman tersebut di masa lampau, yang kini menjadi penanda abadi bagi kawasan religi ini.

2. Suasana Ziarah yang Teduh dan Khusyuk

Berbeda dengan Makam Sapuro yang berada di pinggir jalan raya utama, Makam Nyamplung menawarkan suasana yang lebih tenang dan adem. Terletak di tengah pemukiman yang kental dengan budaya santri, peziarah akan merasakan atmosfer kekeluargaan yang erat.

Fasilitas di sekitar makam, seperti musala dan tempat istirahat peziarah, telah tertata dengan cukup baik hasil swadaya masyarakat dan perhatian pemerintah kota, sehingga membuat pengunjung betah berlama-lama melantunkan tahlil dan doa.

3. Tradisi Khaul: Lautan Manusia di Kelurahan Jenggot

Puncak keramaian di Makam Nyamplung terjadi setiap perayaan Khaul. Pada momen ini, ribuan umat Islam dari berbagai daerahโ€”bahkan dari luar kotaโ€”berbondong-bondong datang untuk menghormati jasa beliau yang bertepatan dengan tradisi syawalan di Pekalongan.

Tradisi Khaul ini tidak hanya berisi doa bersama, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi akbar yang menggerakkan roda ekonomi warga Jenggot. Banyak UMKM lokal yang menjajakan makanan khas dan produk batik di sepanjang jalan menuju makam.

4. Simbol Persatuan Warga Jenggot

Makam Nyamplung juga menjadi simbol persatuan. Pengelolaan makam yang dilakukan secara gotong royong oleh warga setempat menunjukkan betapa kuatnya rasa memiliki masyarakat terhadap warisan sejarah ulama mereka. Keberadaan makam ini secara tidak langsung menjaga marwah Kelurahan Jenggot sebagai salah satu sentra industri batik sekaligus pusat pendidikan agama.


Editor: Redaksi Jurnal Pekalongan Sumber: Wawancara Tokoh Masyarakat Jenggot & Arsip Sejarah Lokal Pekalongan. Kontributor: Abid Karomi

Post Comment

You May Have Missed